Sop dan Jus Buah

Akhirnya sampai juga di sebuah kota yang cukup modern (bisa di bilang begitu).
Sebuah kota yang sangat mudah di temui masalah paling populer di sana, kendaraan vs macet.
Asap kendaraan memenuhi jalanan mulai fajar menyingsing. Awal dari kesibukan kota disini dimulai.
Kali ini, di tengah kesibukan kota ‘modern’ di atas, saya mencoba menggali informasi tentang kota dan beberapa isinya lebih jauh.
Yup, lebih jauh...???
Gimana maksudnya??
Ya jadi begini, di kota yang sangat dibutuhkan mobilitas tinggi itu. Tidak semua bisa merasakan nikmatnya Air Conditioner (AC) di dalam mesin berroda 4. Apalagi saat kemacetan itu melanda. Hugh, apa yang bisa dilakukan orang yang tidak memakai AC???
Gerah??

Nangis??
Atau stress??
Ya jawabannya ada di bayangan dan perasaan anda ikut terlibat disana.
Ok,

Ditengah lalu lalang kendaraan, mampirlah saya di sebuah warung tenda. Nampak sebuah gerobak panjang, meja dan kursi tunggu, laki-laki 3 orang, dan beberapa buah-buahan segar nampak berjajar menghiasi gerobak.

Awalnya hanya ingin membeli panasnya kota dengan segelas jus buah jambu. Eh, sampai disana jadi penasaran ingin tahu prospek bisnis mengolah buah segar menjadi minuman. Ada sekitar 4 orang sudah mengantri, nampak di wajah mereka sedang haus berattttt.
Ada seorang ibu yang memesan jus jambu 4 buah, nampak sang Ibu menyaring sendiri ampas. Dia bilang, biar saya sendiri saja mas yang nyaring. Biar cepat.
Berikutnya ada cewek, ya kira-kira umur 24 tahun lah. Manis pisan euy... kata si pedagang. Hehehhehe maklum mereka asli Bandung ternyata.
Ada juga mas-mas, memakai seragam sebuah dealer motor ternama. Dia memesan jus aple 2, melon 1, alpukat 1, dan jambu 3.
Tepat di depan saya ada seorang bapak dan ibu, sepertinya pasangan bahagia. Keriput dikulit tidak menyurutkan manjanya di tengah keramaian warung.
Sang Ibu mesan jus jambu tanpa es dan gula ya mas.....

oiya bu, pake madu ya bu??
Ya mas. Sama sop buahnya 2 ya??

Ya bu.
Berikutnya tibalah saat aku mendapatkan segelas jus buah. Yeahhhh, akhirnya datang juga waktu antriku...
Di belakangku sudah berjajar 5 orang. Ya, tak perlu melihat kebelakang, akhirnya saya mesan jus jambu dan strawberry.
Maklum untuk kesehatan, jus jambu sangat baik.
Ya, dengan merogoh kocek anda sebesar 7 ribu anda mendapatkan segelas jus jambu.
Yang terlintas dipikiranku bukannya komposisi buah dan isinya, tapi, berapa banyak orang yang datang untuk menikmati minuman ini dalam sehari???
Waduh, semakin penasaran. Akhirnya saya beranikan sedikit ngobrol sama masnya.
Mas, mulai buka jam berapa ???
Anu mas, biasa buka jam 9 pagi. (anu, sebuah kata yang digunakan sebagai alasan)
Saat itu sekitar jam 13.30.
Trus tutupnya jam berapa ???
Tutupnya sekitar jam 19.00 – 20.00 an, biasanya ibu-ibu pulang dari fitnes banyak yang mampir mas.
Ooo, begitu.... Wah tambah penasaran berapa penghasilan dari berjualan buah tersebut.
Dengan senyum terima kasih, mas nya ngasih sebuah tas plastik dengan dua gelas jus buah pesanan saya.
Saya membayar 15 rb, segelas jus jambu seharga 8 rb dan 8 untuk jus stawbery.
Dengan perasaan penasaran, saya mencoba duduk sebentar melihat ramenya warung itu.
Coba bayangkan, sepuluh menit yang lalu sudah 5 orang yang berjajar mirip wayang kulit. Hehehe
Rata-rata mereka beli minimal 10 rb.
Kalau 5 orang kali 10 rb berati sudah 50 rb.
Itu baru sepuluh menit pertama, mereka berjualan dari jam 09.00 – 20.00.
Hampir setengah hari, 12 jam.
Wow, pasti sudah anda bayangkan kira-kira berapa omset mereka setiap harinya?
Dalam tafsiran kamus bisnisku, mereka dalam sehari bisa mendapat minimal 500 rb.
Dalam itungan kasar, 100 gelas sehari. Dengan harga 7000 an.
Ini sudah ketemu total pemasukan 700 rb rupiah.
Penghasilan kotor seorang pedagang es jus.
Sudah semakin paham penasaran saya. Berarti dalam sebulan bisa nyampai 20 jutaan omsetnya.
Ckckckckckc....
Sebuah bisnis yang simple dan menggiurkan.
Akhirnya pulang dengan keyakinan, bahwa kelak akan ada usaha seperti ini di kota asalku.
Terima kasih.
Wasalam.






Comments

Popular Posts