Pemikiran seniman, kedepan lebih baik

Ketika kutemui beberapa seniman rupa di kota reyog, banyak hal yang dapat dibahas dan dibicarakan mengenai perkembangan kota tercinta ini. Sebuah wacana baru yang selama ini masih terpendam dan hampir mengkristal seperti batuan tajam di gua pedalaman. Mengkerucut tajam kebawah serasa mengancam siapapun yang berada dibawahnya.

Waw, heran dan kagum akan ide-ide brilian mereka. Inilah bentuk dari sisi lain seorang pecinta dunia seni. Seakan apa yang digeluti setiap hari seperti obrolan ‘berat’ hingga tak dapat dilogika oleh orang pada umumnya. Walau hanya melalui karya goresan kuas dan tinta di balik kanvasnya.

Melompat-lompat, diatas permukaan batok kepala.

Memang asyik menikmati obrolan bareng mereka, seolah tercipta ruangan halusinasi untuk mencurahkan ide baru, konsep unik, pengembangan terhadap sesuatu yang dianggap berhenti tak ada pergerakkan bahkan tercipta pemerintahan baru.

Hahahaha saya suka kalian. Walau dalam hal ini, saya tidak mempunyai basic jelas mengenai dunia seni atau pendidikan yang mengajarkan saya berkesenian secara baik. Namun karena dengan kalian, saya mengerti dan belajar memahami mengenai sebuah konsep hak cipta karya.

Ada pertanyaan, dahulu pernah kuliah atau ngambil jurusan seni apa?

Hmmmm, pertanyaan yang terlontar oleh salah seorang mereka yang berambut panjang dan sering berpakaian serba hitam itu. Gini kang (sebutan saya kepada orang/teman yang lebih tua dan diatas pengetahuan saya), saya tidak pernah belajar secara resmi di bangku kuliah sembari mendengarkan dosen menerangkan ilmu pengetahuannya secara lugas. Terlepas dari hal itu, saya justru belajar dari para seniman yang kutemui dimanapun berada. Entah di warung kopi, angkringan, jalan, bahkan melakukan kunjungan langsung ke rumah, tentu dalam rangka mencari tahu apa sih yang dilakukan mereka setiap harinya…

Sebenarnya ada jawaban yang lebih jelas dan lengkap daripada jawaban sebelumnya diatas.

Apakah jawaban itu??


Jawabannya adalah, berawal dari rasa cinta terhadap kesenian reyog ponorogo yang sempat di akui oleh Negara tetangga, Malaysia. Waktu itu sekitar akhir tahun 2007 memasuki tahun 2008, hubungan Indonesia dan Malaysia memanas. Entah siapa dan bagaimana awalnya… pemberitaan di media massa menambah membara di garis perbatasan. Saat itulah CINTA INDONESIA saya benar-benar bangkit dari pertapaan panjangnya. Sebuah tantangan untuk ikut serta mempertahankan kehormatan bangsa, tentu berkaitan dengan kekayaan seni budaya Nusantara. (…………………………..)

Wah, masih panjang ceritanya nieh… intinya kota Ponorogo waktu itu masih sangat kurang tentang media yang memberitakan atau mengangkat potensi Seni, Budaya dan Sosial. Alhasil saya bertekad untuk mewujudkannya, dibantu dengan teman-teman yang memiliki tekad sama dan kemampuan yang berbeda. Mereka adalah Edy Setiawan, Agung Prasetyo, Andy, Pujo. Fatkur, Untung Wahyudi, Basuki, dll.

Merekalah semangat terbaik saya sampai saat ini. Jasa dan waktu telah tercurahkan untuk sebuah pemikiran perkembangan kota Ponorogo lebih baik.

Terima kasih kawan.

Nafasmu, masih tetap penyambung hidup bertahan demi kemajuan PONOROGO, INDONESIA, NUSANTARA!!


Comments

Popular Posts