Menangis melihat kotaku - Produk Etnic di Ponorogo

hai hai kawan kawan tercinta, jumpa lagi dengan Pardi disini...

Lokasi Blok M (macan)
Bagaimana kabarnya?? sehat dan bahagia semoga menyertai segala aktifitas kawan sekalian.

Begini, kali ini saya mendapat inspirasi dari seorang sahabat. Inspirasi yang dikeluarkan dari celotehan warung kopi sore tadi. Secara spontan tercipta ide bahasan di topik blog Aku Bujangganong ini.

Produk Etnic di Ponorogo banyak! Namun tak banyak yang dapat bertahan lama dan membesar seperti layaknya tumor ganas. Jadi ingat dengan salah satu grup band parodi Tumor Ganas nieh. hehe

Ok, saat agenda tahunan PEMKAB Ponorogo yang dilaksanakan setiap bulan Syuro kalender jawa,  saya melihat kemeriahan yang cukup sensasional sedang berlangsung di Kabupaten yang terkenal dengan Reyog nya ini.

Ratusan bahkan ribuan orang berduyun-duyun memadati pusat kota, semua aktifitas hidup. Mulai dari pedagang asongan, jasa angkutan becak, rumah makan, penginapan, area wisata, souvenir khas Ponorogo (tentu salah satunya kaos pozone), semua elemen masyarakat hampir dapat merasakan dampaknya.

Namun apakah ini sebuah jaminan, untuk meningkatkan perekonomian Ponorogo??
saya rasa ini hanyalah PESTA TAHUNAN dimana ratusan juta anggaran telah dipersiapkan oleh panitia acara.

Wow... ratusan juta??
Iya benar sekali, anggaran itu menggunakan dana daerah. Panggung besar, sound system berkelas Nasional, pesta kembang api, multimedia, catering, artis bintang tamu, dan semua tetekbengeknya untuk memeriahkan acara ini.

Baik, mari kita sedikit meninggalkan topik barusan dan nanti disambung lagi dibawah.

Apa sih yang menarik dari Ponorogo??

Telaga Ngebel, Air terjun Pletuk, kesenian Reyog, Alun-alun.

pasti jawaban diatas sudah menjadi andalan pembaca sekalian. lha emang mana lagi yang belum kesebut?? konon katanya andalan pariwisata Ponorogo??

Sebaik-baiknya Ponorogo, aku lahir dan besar di sini. Makan pertama kali dengan beras produksi dalam negeri. (kalau gak percaya silakan tanya simbokku...)

Namun kembali kebingunganku menghampiri...

"iki jane aku kon melu piye?? pemerintah wis enek, dinas pariwisata yo wis enek, duta wisata yo wis dipilih.... iki sakjane piye??"

hahahaha... kasus klasik maneh... ealahhhhhhh...

masih pantaskan PONOROGO disebut sebagai KOTA REYOG???

Kondisi ini saya tangkap ketika bertemu dengan salah satu penggiat kesenian Reyog di kediamannya. Sebut saja mbah Pur (sebenarnya masih muda, tapi lebih akrab dengan sapaan Mbah...)

Kata beliau, "lha wong nang kecamatan kota wae, iso diitung sing duwe grup reyog... opo maneh deso??"

Beliau salah satunya yang mempunyai grup reyog di Kecamatan kota. Meskipun masih tergolong baru, grup reyog yang dibina oleh mbah Pur sudah mulai sering mendapat permintaan untuk main/pentas di acara-acara pernikahan, khitanan dan sambutan acara daerah.

"sing kreatif lan terus berinovatif mesti iso bertahan.", kata beliau.

Hal senada juga disampaikan oleh Mbah Misdi Duweh, pengrajin dan sesepuh warok Ponorogo ini mengungkapkan keadaan sebenarnya kesenian reyog saat ini.

"Grup reyog nang Ponorogo wis mulai mretheli dewe-dewe... ono sing wis rusak dadak e, kulite macan mbrodol, jathilane angel golekane, lan sek akeh masalah-masalah sing dialami para pembina grup iku.", kata Mbah Misdi.

Beliau kini sudah menginjak usia senja, namun semangat dan kegigihannya dalam ikut melestarikan kesenian ini takkan pernah hilang. Bahkan beliau pernah berkata, " yen aku isih diparingi panguripan sing isih dowo, aku yakin, REYOG PONOROGO bakal tersebar sak jagad raya..."

Memang secara usia, beliau kini adalah satu-satunya sesepuh yang paling tua. Setiap hari beliau membuat miniatur reyog, mulai dari yang di pigura, topeng, dll. Ada kebiasaan unik beliau setiap kali saya datang berkunjung ke rumah, dapat dipastikan Mbah Misdi tidak pernah menggunakan pakaian dalam beraktifitas.  hehehe... unik deh melihat mbah Misdi.

Selain itu, yang paling nikmat adalah Kopi buatan isti tercinta mbah Misdi. Wow... rasanya NIKMAT sekali... bahkan saya mendapat wejangan, "yen arep ngunjuk kopi, njenengan mriki mawon mas...." hehehe

Hal unik lainnya adalah ketika aku datang berkunjung dengan membawakan sedikit kebutuhan pokok, beliau sangat marah dan berpesan " Ora usah nggowo-nggowo ngene iki maneh mas. wis ora usah mrene yen sampean isih nggowo barang-barang ngono kui... aku lilahita'ala nang sampean... sampean wis tak anggep putuku... yen arep nggowo ngono kui, luwih becik nang panggonan sing liyane  wae."

Ya begitulah mbah Misdi... Aku mendapat banyak Semangat dan Inspirasi dari beliau.

Saya hanya berharap dan berdoa, kesenian Reyog dapat terus bertahan di Aslinya, yaitu Bumi PONOROGO.

Alangkah Indahnya, Bila Ponorogo mempunyai satu tempat yang dapat digunakan untuk daya tarik, wisatawan domestik maupun internasional datang di Ponorogo. Misalnya di Batu ada Jatim Park I dan II, seadainya yang ke III itu ada di Ponorogo boleh juga kan??

Sekian dulu celotehan Pardi hari ini, semoga bisa berlanjut di pertemuan selanjutnya.

Salam Budaya,

Pardi.

Comments

  1. Kesenian apalagi yang berasal dari Ponorogo? :D

    ReplyDelete
  2. ora usah bingung mas Pardi. itu hanya masalah waktu dan kesempatan lain yang belum anda tempuh.
    selamat berjuang!

    ReplyDelete
  3. ndak tahu mas.
    (ngambek mode on)

    ReplyDelete
  4. maaf, anda dengan siapa???
    kok sepertinya malah mendukung saya??

    ReplyDelete
  5. BRAVO ternyata masih ada anak muda yg future oriented untuk menunjang hal-2 itu perlu banyak hal yg musti di laksanakan (teorine akeh banget) namun klo mau berkaca dari negara lain sing cedak wae singapore lahan sempit ga punya kebudayaan ,geografisnya ga nunjang tapi knapa jadi tourist destination area,smentara ponorogo contone kampunge sampean Slahung dulu gunungnya lmayan bagus klo seandainya disana dijadikan tempat paralayang atau climbing area waduh huebat kang tapi saiki malah gundul rusak ga karu-2an kecilku dulu sring kesana naik gunung dari blakang pasar pulange bli nanas nuuuumpak seeeepur wah tamasya hebat ke barat ada forest area cedak wonogiri bisa di jual itu ke timur mountain area Pulung yg dulu terkenal jeruknya wah pokoke jajane ponorogo dibanding madiun ngawi nggalek DSK seh luwih bagus kuncine pada otoritas PIMDAR an masyarakat yg wellcome ayo kang ajak pemuda pemudi ponorogo "HASUT"untuk menjadi cinta "negeri sendiri"nuwun kang pardi

    ReplyDelete
  6. terima kasih atas kunjungannya puh Ebez Hewez, pardi hanya sebagian kecil dari sekian banyak penggiat budaya di kota Ponorogo. walaupun dalam kenyataannya masih dengan idealisme masing-masing.
    sama halnya dengan pertama kali pardi mencoba untuk mengikuti pemilihan duta wisata Ponorogo, yang ada dibenakku bagaimana aset dalam diriku ini dapat bermanfaat...
    hehehehe, masih banyak potensi Ponorogo yang belum terangkat pak, namun apalah dayaku...
    kebutuhan sehari-hari masih lebih penting... butuhe soyo akeh... hehehe
    sekali lagi terima kasih atas kesempatan berkunjung di blog pardi.
    Salam pak,
    pardi

    ReplyDelete
  7. sampeyan iso ae mas nulis koyo ngunu...hehe...mantep tulisane sampeyan mas....

    ReplyDelete
  8. hehehe, wong trah yo isone mung ngono iku kang. ayo diwiwiti mulai saiki...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts