Mengenal para pengrajin reyog (I)

Ilustrasi/google
Seni Reyog telah menjadi ikon pariwisata Ponorogo, sebuah Mahakarya luar biasa yang dimiliki oleh Warga Indonesia. Kesenian ini mempunyai keunikan tersendiri, dihiasi bulu merak dan kepala harimau dirangkai menjadi Topeng terbesar di dunia. Bulu merak merupakan simbol keindahan, dipadukan dengan kepala harimau yang menunjukkan kekuatan. Perpaduan keduanya menjadikan hiburan tersendiri untuk dinikmati dan melestarikannya.
Kekuatan dan keindahan sebenarnya akan nampak ketika kesenian Reyog ditampilkan, Topeng setinggi 2,5 m dengan bobot sekitar 50 Kg diangkat dan kemudian disangga dengan gigi. wow, ini luar biasa...

Tim POzone dalam sebulan terakhir berkunjung ke beberapa pengrajin di kota Ponorogo, mengenal lebih dekat para pengrajin dan mempelajari proses pembuatan Topeng reyog.

Baik, perjalanan pertama kami menuju ke Pengrajin yang berada di Grenteng, Ngampel, Balong.
Disana kami bertemu dengan pengrajin reyog bernama Pak Warni. Rumah sederhana dengan suasana pedesaan masih cukup terasa, didalam rumah berjajar karya beliau. Kurang lebih ada 8 kepala barongan tertata rapi diatas kursi, ditambah beberapa bahan produksi diantaranya kendang, topeng. Usaha ini telah digeluti pak Warni sejak 10 tahun terakhir, dibantu beberapa keponakan dan saudara, pak Warni mampu menghasilakan karya 1-2 reyog perbulannya.

Salah satu Reyog karya Alm. Warni Grenteng
"kalau memproduksi reyog itu tergantung dengan jumlah pesanan dan kondisi para pengrajin, tidak dapat dipastikan berapa banyak jumlah karya setiap bulannya", tambah Pak Warni.

Bapak dengan satu putra ini tetap berkarya dengan segenap usaha demi kelestarian seni reyog ini. "Usaha turun menurun dari keluarga harus diteruskan, jangan sampai hilang", harapan Pak Warni.
Selain memproduksi, beliau juga melayani reparasi topeng reyog. Biasanya, para pemesan lebih percaya kepada pengrajin topeng reyog sebelumnya daripada pengrajin lain.

Obrolan kami semakin menghangat ketika suguhan khas warga Ponorogo yaitu kopi, tersedia di meja ruang tamu. Pak Warni pun menceritakan pengalamannya dalam dunia Seni Reyog. "Tahun 1980an saya Pembarong, bahkan pernah ikut kontingen wisata Jatim dalam memenuhi undangan Presiden Soeharto, di acara pekan raya Jakarta", ceritanya dengan bangga.

Reyog waktu itu diwakili oleh grup reyog di penjuru Ponorogo, timur, barat, selatan dan utara. Masing-masing daerah mengirimkan wakil terbaiknya, "Sing jelas, iki ora gemen-gemen. Poro sesepuh Reyog Ponorogo podo mlumpuk kabeh, kanggo menuhi panyuwun Pak Presiden. (yang jelas ini bukan main-main. para Sesepuh reyog Ponorogo berkumpul semuanya, untuk memenuhi permintaan Pak Presiden)", tambah pak Warni.

Kesenian pada waktu itu mendapatkan ruang tersendiri bagi Pak Harto, "Pak Harto iku wong seni mas, dadi seneng yen disuguhi kesenian e Indonesia. (Pak Harto itu orang seni, jadi sangat tertarik ketika dipertunjukkan kesenian Indonesia", cerita pak Warni terharu mengingat perjalanan berkesenian Reyog.

Rasanya waktu sudah menjelang petang, awan gelap dan cuaca pun nampak akan turun hujan. Akhirnya perjalanan menelusuri Pengrajin Reyog kami teruskan esok hari. (bersambung)

(pard/them)

Comments

  1. apanya yang Bantarangin cah bagus??

    ReplyDelete
  2. Reyog Ponorogo kesenian tradisional asli yang sudah amat terkenal seantero Nusantara dan dunia. Pernik-pernik di balik kesenian Reyog ini amat menarik bila diungkap dan disajikan ke pemirsa. Trims sharingnya. Salam sukses.

    ReplyDelete
  3. terima kasih, semoga dapat terus mengupdate informasi tentang pernak-pernik Ponorogo dan segudang isinya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts