Sepi dalam kemeriahan bulan ramadhan

Wahana pertunjukan Tong Setan
hai hai kawan, apa kabar?? lama saya tak menjumpai saudara sekalian setelah beberapa waktu terakhir sedikit agak sibuk dengan aktifitas di kontrakan baru. Namun tak sedikitpun untuk memalaskan diri atau tak menyempatkan waktu sejenak untuk merangkai kata-kata seputar kota Ponorogo.
Yah, seperti saat ini keadaan di Kabupaten Ponorogo cukup ramai. Aneka jajanan tertata rapi memenuhi pusat kota, suara berisik knalpot motor pun tak mau ketinggalan dalam moment ini.

Sebenarnya ada apakah??
Ternyata, di Ponorogo sedang ada agenda tahunan yang dilaksanakan di alun-alun. Lapangan seluas stadion tersebut mendadak ramai sekali, hampir disetiap malamnya. Padahal setiap harinya, tempat ini juga tak pernah sepi akan hadirnya warga Ponorogo untuk sekedar jalan-jalan atau mencari barang-barang yang ditawarkan secara murah oleh para pedagang kaki lima setempat.

Pada hari biasa, mungkin ada sekitar 50-80an pedagang kaki lima yang memanfaatkan alun-alun sebagai tempat usaha. Adapun barang dagangannya didominasi oleh jenis kain atau aneka macam pakaian, mulai yang baru atau bekas (warga setempat menyebutnya owol-owol).

Harganya pun bervariasi. Sudah pada tahu belum tentang keadaan perekonomian di Ponorogo?? terlebih pada harga kebutuhan makan, kota reyog ini cukup memiliki standar yang cukup murah. Mungkin seIndonesia kali ya?? hehe makan kenyang dengan lauk yang cukup, tak akan menguras kantong anda sekalian. Tentu tidak berlaku untuk semua warung makan ya... Begitu juga dengan dagangan saudara-saudara kita yang berada di alun-alun. Pakaian yang dijual disana pun sangat terjangkau. Namun pepatah lama tetap menjadi acuan, bahwa "rega nggawa rupa".

Setiap bulan Ramadhan, terjadilah puncak keramaian di lapangan tengah kota ini. Kalau dihitung secara acak, besar kemungkinan ada ratusan ribu orang setiap harinya berkunjung di Pasar Malam ini. Biasanya Pasar Malam ini mulai dibuka pada minggu terakhir untuk umat islam dalam menjalankan ibadah puasa.

Selama kurang lebih 20 hari, entah berapa banyak perputaran uang yang terjadi di Pasar Malam ini. Mungkinkah menyentuh digit 10?? owh mungkin sekali. pasti sangat mungkin, melihat antusias warga yang datang secara berbondong-bondong dengan menyewa kendaraan truk terbuka, sangat banyak. Belum lagi warga yang membawa kendaraan roda dua.

Hal ini tentu dimanfaatkan oleh warga setempat untuk NGAJI. Apakah NGAJI itu?? sebuah plesetan yang saya temukan disalah satu grup facebook ini, tiba-tiba membudaya secara instan. Mak dierrrrrrrrrrrrrrr seperti suara petasan kembang api yang sangat banyak pada bulan ramadhan ini.... hehehe usut punya usut, ternyata maksud dari NGAJI masih ada terusannya. Yaitu MUMPUNG, jadi kalau disambung NGAJI MUMPUNG.

Ngaji Mumpung ini sangat terasa sekali saat anda akan memarkirkan kendaraan bermotor anda. Dihari biasa, anda cukup mengeluarkan 500rupiah untuk kendaraan roda dua dan 1000rupiah untuk kendaraan roda empat. Namun pada kesempatan ini, biaya/tarif parkir melambung sampai langit... hahahaha mahalllll amat.

Untuk biaya motor mendadak menjadi 3000-5000rupiah, sedangkan mobil mendadak menjadi 5000-10000rupiah. wah wah wah... banyak ya peningkatannya.

Aji mumpung, merupakan sebuah kekuatan atau ilmu yang digunakan pada saat tertentu dan dirasa dapat dengan sangat menguntungkan bagi yang memiliki ilmu ini. Moment keramaian seperti ini merupakan ladang emas bagi mereka yang memiliki ajian/ilmu mumpung. alias memanfaatkan keadaan.

Dibalik kemeriahan tersebut, banyak pencari rupiah yang belum dapat saya sebutkan satu-persatu. Mulai dari pencopet, pengemis, tambal ban, makanan dll.

Yang jelas, setiap tahun Kabupaten Ponorogo mempunyai agenda rutin dalam menggelar Pasar Malam. Pada saat Lebaran dan Grebeg Suro, kedua moment ini tentu menjadi andalan bagi para pedagang dan pencari rupiah di seputaran alun-alun Ponorogo. Bagi warga Ponorogo, mungkin belum afdol puasanya atau lebarannya kalau belum berkunjung ke Pasar Malam. hehe

Penasaran dengan kemeriahannya??? Datang aja ke Ponorogo di kedua moment di atas, bila ingin menikmati keindahan kota Ponorogo yang lain, saya pun siap menjadi pemandu wisata anda setiap saat.

Akhirnya, sepi itu terpecahkan dengan adanya postingan perdana di awal bulan September ini.

Oiya, saya ingin mengucapkan MINAL AIDZIN WALFAIDZIN MOHON MAAF LAHIR BATIN.

Terima kasih semua, tetap sehat dan jaga kondisi tubuh untuk bekerja menyambut masa depan.


salam,

Pardicukup.

Comments

  1. Masing-masing daerah mempunyai ciri khas, keunikan dan kultur yang menarik. Ponorogo Kota Reyog. Ponorogo Kota Santri dengan Pondok Gontor nya. Ponorogo pembangunannya maju, kotanya luas dan jalannya lebar. Pasar Malam di aloon-aloon Ponorogo menjadi kegiatan ekonomi rakyat yang menyedot banyak pengunjung disana. Tentu kita berharap tidak ada 'aji mumpung' disana. Tarif dan harga yang wajar tentu lebih disukai oleh pengunjung. Semua dalam kebersamaan untuk mewujudkan rakyat yang sejahtera. Salam sukses Sobat.

    ReplyDelete
  2. rame mas ponorogo, kadang sampai macet

    ReplyDelete
  3. ringkasan cerita yang cukup menarik pak.
    Ponorogo oh Ponorogo, aku mendukungmu...!!!

    ReplyDelete
  4. betul, mendadak seperti kota metropolitan. (dihari-hari tertentu... hehe)

    ReplyDelete
  5. minal aidin wal faizin maaf lahir batin dulur..

    pasar malem selain jadi hiburan tahunan warga ponorogo, khususnya yang tinggal jauh dari keramaian kota, juga bisa menggeliatkan perekonomian warga, industri kecil juga menenggak untung..

    lanjutkan!

    ReplyDelete
  6. minal aidzin wal faidzin kang :)

    ReplyDelete
  7. matur nuwun kangmas, sami-sami nggih. nyuwun sepuranipun ingkang kathah menawi kula wonten kalepatan.

    nuwun.

    ReplyDelete
  8. wah, iya, kalau ada even kayak gitu aja, biasanya parkir motor jadi 2000 perak. muahal. haha, padahal belum tentu beli juga disana, hanya lihat2.

    ReplyDelete
  9. ya begitulah.
    namun dengan adanya seperti itu, tak menyurutkan jumlah pengunjung yang akan datang di alun-alun Ponorogo.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts