blangkon model Ponorogo dan Solo

Alm. Mbah Wo Kucing (Kasni Gunapati)
Oleh : Pardi Prabowo

Halo kawan, lama nih Pardi tak menulis di blog ini. hehe serasa sudah dua tahun. (halah... padahal kan baru kemarin posting terbarunya) Semoga kawan-kawanku tercinta tetap mendapat perlindungan dan kemudahan dari Tuhan. Amin
Bicara tentang Blangkon, beberapa waktu lalu saya mendapat pesanan dari salah satu klien setia di negara seberang, yaitu enam buah mondolan Warok atau disebut blankon warok. Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari selembar kain bercorak khas dan digunakan oleh kaum pria sebagai pelengkap dari pakaian khas masyarakat Jawa.  Bagi anda yang penasaran dengan kelanjutan mengenai Blangkon Ponorogo atau Surakarta, mari ikuti artikel saya ini.


Pada dasarnya bentuk Blangkon menurut Wikipedia, "blangkon dibagi menjadi 4 model yaitu blangkon Ngayogyakarta, blangkon Surakarta, blangkon Kedu, dan Blangkon Banyumasan. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon."

Namun kali ini saya hanya ingin mengupas tentang perbedaan Blangkon Surakarta dan Ponorogo, dimana blangkon daerah tersebut mempunyai perbedaan bentuk dan ciri khasnya yaitu tonjolan dibagian belakangnya. Blangkon model Ponorogo memiliki tonjolan pada bagian belakang kepala, hampir menyerupai gelung rambut pada wanita berjilbab saat ini. Sedangkan Blangkon model Solo, tepes alias rata tidak mempunyai tonjolan layaknya model Ponorogo.

Usut punya usut, adanya sebuah penyimpulan oleh diri saya sendiri dan didukung oleh sumber-sumber yang kutemukan di google, bahwa warga Solo sudah lebih dulu mengenal ilmu gunting rambut dan memiliki rambut yang tipis/rapi. Hal ini muncul kemungkinan dari kedatangan bangsa asing ke Indonesia khususnya Solo dengan membawa pengaruh gunting rambut. Sehingga ada sebuah bentuk kerapian dalam perkembangan dunia fashion waktu itu, istilahnya trend blangkon tanpa tonjolan.

Sedangkan di Ponorogo, warganya saat itu belum mengenal ilmu gunting rambut. Alhasil muncullah pentolan di belakang blangkon yang menggambarkan bentuk rambut sedang digelung (ikat melingkar) atau disebut mondolan. Menurut pengrajin blangkon Ponorogo Mbahkung Kusnin (84), blangkon Mondolan Ponorogo yang asli ya ikat semua. Pada jaman dahulu, kebanyakan warga Ponorogo berambut panjang dan cara mengenakan blangkon, rambut panjang akan diikat kuat sebelum memakai ikat rambut, lalu ikut ditutup dengan kain blangkon tersebut dengan ikatan yang kuat agar tak mudah lepas.
Nah, pada masa kini sudah banyak ditemukan blangkon-blangkon yang tinggal pakai. Ada yang berbentuk mondolan, ada pula biasa. Hal ini dikarenakan  untuk mempermudah pemakaiannya. Dan orang jaman sekarang kebanyakan mempunyai rambut pendek dan rapi. Kalaupun ada yang berambut panjang, mungkin jarang akan menggunakan model mondolan asli seperti jaman dahulu. Perkembangan tren telah membentuk gaya berblangkon masing-masing daerah.

Bagaimana dengan model blangkon di tempat anda? apakah ada yang mempunyai kesamaan dengan kedua kota diatas??

ini ceritaku, mana ceritamu...

Comments

  1. beerbeda tapi tetep sama :)

    ReplyDelete
  2. begitulah, prinsip sederhana yang dapat dijadikan pegangan sehari-hari. Walaupun beda jenis dan basic, namun mempunyai arti dan manfaat yang sama. :)

    ReplyDelete
  3. Sik tak golekane, blankone mbahku kae isik opo gak yo? :D

    ReplyDelete
  4. leh, sampean due blangkon e mbahe toh kang??
    ojo didol loh kang?? iki biasane wis genep umur e. nek kualat mbuh loh yen sampean dol.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts