Hubungan erat Ponorogo dan Solo

Hubungan dekat antara Surakarta dan Ponorogo.

Oleh : Pardi Prabowo
Peta Ponorogo

Tidak bisa dipungkiri, dibalik sejarah Kota Surakarta/Solo, terdapat benang merah dengan masyarakat Kota Ponorogo. Hal ini terjadi dikala Pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742. Sultan pun mengungsi ke Ponorogo. Berkat bantuan dari warga Ponorogo (warok) pada waktu itu, Sultan Pakubuwana II berhasil kembali merebut kekuasaan Kasunanan Surakarta.


Berkat jasa dan bantuan tersebut, para warok mendapat hadiah kekuasaan. Namun tak satupun tawaran yang diberikan Sultan Pakubuwana diterima oleh Warok. Hal ini dikarenakan, sifat warga Ponorogo saat itu terkenal dengan Tanpa Pamrih. Sama halnya dengan cerita tentang sifat para warok, sakti mandraguna tanpa pamrih.
"Sugih ilmu lan sakti. Ilmu lan kasektene iku ora kanggo diri pribadi, kanggo nulung marang sapa bae malah-malah kanggo lingkungan.", Kasni Gunopati.
Melihat dan mempelajari sifat para warok, hampir sama dengan sifat para Biksu. Mungkin pada waktu itu, ajaran Biksu juga ikut mempengaruhi sifat-sifat para Warok.

Anak/Cucu Warok tidak pernah tersisa.
Ajaran para Warok mempunyai sistem 10 : 8. Dimana setiap ada calon warok yang belajar ilmu kepada sesepuh warok, hanya 8 ilmu yang akan diberikan kepada calon warok. Begitu seterusnya, entah saat ini sudah sampai pada tahap apa...otomatis semakin lama akan semakin berkurang ilmu asli yang akan ditularkan. Karena 2 poin kekurangannya adalah ilmu yang didapat dari penyempurnaan diri. Saat ini yang ada hanyalah Warokan dan Warok Muda. (CMIIW)

Kita harus membangun pemikiran positif nilai keunggulan komparatif kearifan lokal warok. Dari naskah yang saya pelajari, dari 10 diajarkan 8, karena yg 2 itu adalah pengenalan diri (bakat individual) dan kepasrahan pada sang Pencipta. Memang yg 8 itu bersifat kanuragan. Artinya, kita harus menekankan aspek kejiwaan (nilai2) untuk kembali ke karakter Ponoragan. (Bambang Kusbandrijo)

Ada kemungkinan hubungan erat dengan banyaknya warga keraton Surakarta yang menimba Ilmu di Gebangtinatar asuhan Kyai Hasan Basri. Mengungsinya Sultan ke Ponorogo guna untuk mencari keselamatan dan mengumpulkan bala tentara.

Seperti apa yang dkutip pada website surakarta.go.id (pada beberapa bulan yang lalu, sekarang sudah diganti) sebagai berikut :

"Sejarah Sejarah kelahiran Kota Surakarta (Solo) dimulai pada masa pemerintahan Raja Paku Buwono II di Kraton Kartosuro. Pada masa itu terjadi pemberontakan Masa Gerendi (Sunan Kuning) dibantu kerabat-kerabat Keraton yang tidak setuju dengan sikap Paku Buwono I yang mengadakan kerjasama dengan Belanda. Salah satu pendukung pemberontakan itu adalah Pangeran Sambernyowo (RM Said) yang merasa kecewa karena daerah Sukowati yang dulu diberikan oleh Keraton Kartosuro kepada ayahandanya dipangkas. Karena terdesak, Paku Buwono mengungsi ke daerah Jawa Timur (Pacitan dan Ponorogo).

Dengan bantuan pasukan Kumpeni dibawah pimpinan Mayor Baron van Hohendrof serta Adipati Bagus Suroto dari Ponorogo pemberontakan berhasil dipadamkan. Setelah itu, Keraton Kartosuro dihancurkan Paku Buwono II lalu memerintahkan Tumenggung Wijil untuk mencari lokasi ibu kota Kerajaan yang baru. Pada tahun 1745, dengan berbagai pertimbangan fisik dan supranatural, Paku Buwono II memilih desa Sala ? sebuah desa di tepi sungai Bengawan Solo-sebagai daerah yang terasa tepat untuk membangun istana yang baru.

Sejak saat itulah, desa Sala segera berubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Melihat perjalanan sejarah tersebut, nampak jelas bahwa perkembangan dan dinamika Surakarta (Solo) pada masa dahulu sangat dipengaruhi selain oleh Pusat Pemerintahan dan Budaya Keraton (Kasunanan dan Mangkunegaran), juga oleh kolonialisme Belanda (Benteng Verstenberg). Sedangkan pertumbuhan dan persebaran ekonomi melalui Pasar Gede (Hardjonagoro)."

Bahkan muncul isu, bahwa Kebo Bule yang ada di Surakarta merupakan bantuan dari Ponorogo.

"Menurut seorang pujangga kenamaan Keraton Kasunanan Surakarta, Yosodipuro, leluhur kerbau dengan warna kulit yang khas, yaitu bule (putih agak kemerah-merahan) itu, merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo kepada Paku Buwono II, yang diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal) dari sebuah pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet. Sekadar catatan, sampai sekarang pihak keraton tidak pernah bersedia menjelaskan apa bentuk pusaka Kyai Slamet ini."

Semoga saya, anda dan kita semua tetap memegang teguh Nilai Subtansial/pokok para leluhur Ponorogo.

Comments

  1. tulisan anda menambah pengetahuanku....terima kasih :D

    ReplyDelete
  2. sama-sama kang.
    sebenarnya masih banyak informasi yang belum tertulis di atas.
    mungkin dengan adanya tulisan ini, dapat menjadi materi tambahan dan pelengkap materi-materi lain yang belum sempat tertulis di blog ini.

    salam.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts