Late post - Pak Bambang yang Kaya Raya

Ini waktunya ngopi
Hahahahhaa akhirnya nulis lagi.
Bagaimana dengan tulisan saya yang sebelumnya???
Apa ada buanyak kesalahan penulisan???
Atau banyak kekurangan???

Hehehe, semua itu adalah proses pembelajaran. Tanpa ada koreksi dan kritik saran dari pembaca, karya tulisan itu tidak ada apa-apanya. Komentar para pengunjung menjadi penyemangat untuk menjadi lebih baik.

Ops, kali ini saya mengalami perkembangan suatu masa. Dimana semua orang sibuk dengan urusan kerjaan masing-masing, entah dengan lahan sawahnya yang luasnya 10 Ha, ternak kambing 50 ekor atau bahkan ternak rumah. Semua itu membuat lupa akan arti dari kesuksesan itu sendiri. Di saat itu saling tegur sapa dan salam jarang terdengar antar mereka. Hal ini tentu membuat suasana yang ‘dulu’ pernah indah, membuat ada jarak dan ruang.

Hmm, bukankah dulu keakraban itu masih terasa indah?

Di saat hujan gerimis pada sore itu sedang berkumpul di sebuah warung tradisional, duduk di sebelah kanan ada pak Bambang, sebelah kiri pak Jupri, sebelah kirinya ada pak Jampang, di depan ada pak Misri, dan di sampingnya ada pak Muji. Dengan secangkir kopi tubruk (asli gorengan DW), cukup menghangatkan badan yang terasa dingin karena hujan.

Hahahahhaa, xixixixiixxi, suara gemuruh mengimbangi tetes air hujan yang mengenai atap seng warung. Tak tahu kemana arah obrolan saat itu, saling ngobrol masalah bini atau harga cabe yang kian lama bersaing dengan emas. Tak tahu topik apa yang terjadi. Sangat terasa sangat keakraban dan kekeluargaan yang terjadi.

Sosok pak Bambang yang kurus dan berkumis semampai itu, kini telah tinggal di kota Metropolitan. Dengan bisnis yang luar biasa megah dan serba mewah. Kini hidupnya hampir semua tercukupi, mobil di garasi rumah utamanya berjajar. Mulai berplat nomer 1 (satu digit), bermerk eropa, bahkan bertuliskan B 8055 S. Wow, kini pak Bambang sudah menjadi seorang jutawan. Sudah bisa menjadi juru sulap, dapat mengubah lahan kosong tak berpenghuni menjadi lahan hunian mewah dan diminati oleh pecinta kenyamanan.

Lain halnya dengan pak Jupri, si tukang bakso yang sering keliling di kampung-kampung membawa gerobak peninggalan bapaknya. Setiap hari pergi ke pasar untuk mendapatkan bahan keperluan dagang baksonya. Jupri mempunyai anak cantik yang cukup dapat memikat lelaki manapun. Lalu apa yang terjadi? (bersambung dulu)

Comments

Popular Posts