Pulau Madura dijual?

Sebuah pulau di Jawa Timur yang dahulu dianggap gersang dan tandus, perlahan kini semakin ditata oleh Badan Pengembang Wilayah Suramadu (BPWS). Banyak penduduk Madura yang 'pergi' meninggalkan tanah kelahirannya, mengadu nasib di penjuru kota di Indonesia. Contohnya di Ponorogo, saya menemui banyak sekali warga Madura yang menjadi juragan di berbagai usaha, mulai Tukang Cukur, Bubur Kacang Ijo, Pengepul Rosok, Sate dan lain-lainnya. Tidak jarang mereka sukses di perantauan, hingga membuat tanah kelahirannya ditinggalkan. 
Namun kini, pembangunan di Madura sudah mulai dikembangkan. Tentu peran BPWS dalam menyiapkan hal-hal penting dalam upaya 'MENJUAL MADURA', mengingat masih kurangnya kesadaran masyarakat secara umum tentang potensi wilayahnya. Kemarin pada tanggal 22-25 November 2016, Plat M sebagai komunitas Blogger Madura mengundang puluhan blogger Nasional ke Pulau Madura, acara ini adalah dalam rangka #MenduniakanMadura dan menelusuri #jejakBPWS di Pulau Madura dan sekitarnya. Saya kebetulan mendapat kesempatan ikut rombongan blogger, perwakilan dari Ponorogo. Ada juga blogger yang hadir dari pulau seberang, Kalimantan, Sumatera dan kota besar di Indonesia.
Selama 4 hari 3 malam, blogger diajak keliling Madura serta menyeberang ke Pulau Giliyang, untuk sekedar mendokumentasikan tempat indah dan mempromosikan Pulau Madura ke seluruh dunia. Berikut adalah hasil dokumentasi saya sepanjang perjalanan dari Terminal Purabaya hingga kembali lagi. Akan dibagi menjadi beberapa postingan, karena sangat banyak foto/video menarik selama di Pulau Madura. 

Mendarat dengan selamat di terminal Purabaya Surabaya pukul  05.20 WIB
Setelah menunggu sekitar 30 menit, ketemu dengan Wijaya Whizisme
Kemudian disusul oleh Halim Santoso

Bertambah lagi di mobil jemputan, Muhammad Ali Mudzofar dan tinggal menunggu Silvi yang masih diperjalanan

Karena ruangan yang sempit, saya mencoba memotret dengan kamera 360 untuk pertama kalinya bersama rombongan Blogger Nasional ini. Pembekalan akan materi perjalanan sudah disampaikan oleh pihak BPWS, selanjutnya akan diantar menuju beberapa lokasi pembangunan di wilayah Suramadu dan sekitarnya.

Setelah meninggalkan Bungurasih (Purabaya) langsung menuju kantor Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS)
Pada bagian ini, peserta #menduniakanMadura disambut dengan nasi Serpang, rombongan dibagi menjadi dua yaitu sebagian menjelajahi kaki jembatan Suramadu dan lainnya bertemu dengan petinggi BPWS di ruangan pertemuan lantai dua
Nampang sejenak di samping bus pengangkut rombongan Blogger Nasional

Menempati bangku paling belakang, bersama dengan Salman, Fajrin, dan Wijaya

Saya masih bingung, mereka pada ngapain... eh iya, mereka lagi motret papan nama daerah.

Setelah lama tidak berjumpa, akhirnya bertemu kembali dengan mereka (blogger seumuran)

Salah satu penghuni hutan kera Nepa, nampak sangat jaga jarak dengan pendatang/pengunjung.

Sebagian besar penduduk pantai Nepa, masih menggunakan kayu bakar untuk keperluan masak-memasak. Dapurnya pun masih banyak yang berada di luar rumah.

Sajian makan malam pertama kali di penginapan, yaitu sebuah rumah besar yang penghuninya jarang pulang, karena sudah lama tinggal di luar kota dan menetap di perantauan. Mungkin menurut pengamatanku, bangunan megah ini adalah untuk menunjukkan status sosial pemilik kepada masyarakat setempat. Mungkin!
Para pengunjung ke Nepa sangat diharapkan menghubungi Juru Kunci untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Sesaat sebelum melanjutkan perjalanan, jepret-jepret dulu hahaha itu kamera berapa yang motret?? 

Pasar Ketapang, saat berjalan meninggalkan rombongan untuk menuju Kantor Pos

Jaraknya sekitar 700 meter dari lokasi pemberentian bus, peserta pada belanja di swalayan. Alhasil saya memilih untuk mencari Kantor Pos, karena ada sesuatu yang harus kulakukan. 

Setelah sekitar 30menit berjalan, sampailah saya di tempat yang kucari selama ini (setiap bulan kalau sempet selalu kesini) Tanpa harus menunggu lama, saya langsung memberikan surat sakti kepada pegawai Kantor Pos Ketapang, Sampang. Ohiya, sebelumnya saya memasuki kantor Pegadaian, tapi pegawainya belum datang padahal sudah jam 08.00 WIB. Persyaratannya untuk mencairkan Western Union di Madura berbeda dengan Ponorogo, kalau di tempatku hanya dibutuhkan potokopi KTP, disana harus ada kartu identitas lain, SIM atau surat lainnya. Ok, sudah selesai langsung balik lagi menuju rombongan. Rasanya gak mungkin deh kalau harus berjalan lagi, pasti kena semprot sama rombongan atau panitia. Akhirnya ada bapak-bapak yang sedang lewat menawarkan ojeg, langsung aja saya mengiyakan tawarnya. Cusss ... karena bapak sudah baik kepada saya, akhirnya saya beri upah yang menurutku cukup untuk beli rokok 3 pack. Sesampai di dalam bus, langsung disambut untuk mengajak traktiran. Ok skip... hahaha

Bersama Salman di puncak air terjun Toroan, Ketapang, Sampang

Objek wisata air terjun torowan terletak di Desa Ketapang Daya, Kec. Ketapang, dengan jarak ± 43km dari pusat kota ke arah utara dengan akses jalan menuju lokasi di jalur transportasi umum Sampang - Ketapang – Sokobanah. Air Terjun Torowan yang merupakan satu-satunya air terjun di Kabupaten Sampang dan di Pulau Madura, sumber mata Air Terjun Torowan berasal dari sungai sumber payung yang berada di kecamatan Ketapang Timur, dengan posisi tinggi mencapai + 20mdari permukaan air laut dan letak jatuh air terjun yang langsung bermuara ke laut lepas pantai utara merupakan pesona tersendiri dari air terjun ini. Selain keindahan pesona air terjun dan paparan pantai utara wisatawan akan mendapat kemudahan dengan pemenuhan sarana dan prasarana yang telah tersedia pada objek wisata ini berupa sarana mandi/WC, tempat penjual makanan/minuman, dan tempat parkir, sudah memadai. Wisata ini ramai dikunjungi wisatawan pada hari besar agama, liburan sekolah dan akhir pekan, bagi mereka yang ingin melepaskan kepenatannya setelah beraktivitas. (Wikipedia)
Mengunjungi pasar ikan Pasongsongan, Sumenep, Nampak ibu-ibu sedang mengawetkan ikan dengan es batu setelah dibawa menepi oleh para nelayan. Harga ikan disini relatif murah, seekor ikan dengan bobot sekitar 3Kg dihargai sekitar 80ribu rupiah. Pengin sebenarnya untuk membeli dan bakar-bakar bareng rombongan, tapi sepertinya tidak mungkin deh. 



Berhenti sejenak di pangkalan pendaratan ikan Pasongsongan, Sumenep.

Bersama bapak Kapolsek Pasongsongan, bapak Holik. Terima kasih telah disambut kedatangan kami.

Bersama Ki Ageng Ropet, beliau yang menyiapkan makanan rombongan selama di Pulau Giliyang, Sumenep. Terima kasih bapak, sambalnya mantab!
Bersama Budiono, blogger yang asli kelahiran Ponorogo tapi kini menetap di Surabaya. Nampak dibelakang ada Wahyu alam dan siapa ya namanya? belum kenalan. hehe Selama di pulau Giliyang, rombongan blogger diberikan beberapa alternaitf tempat wisata. Salah satunya adalah Gua Mahakarya, tempat ini masih sangat alami. Mulai dari pintu masuk sampai kondisi dalam gua, belum tergarap dengan baik. Semoga kedepan segera tergarap.



Para Blogger siap-siap memasuki goa Mahakarya dipandu oleh Juru Kunci, karena akan sangat berbahaya dan tersesat di dalam goa. Perlu diketahui, goa ini memiliki luas sekitar 400 meter pesegi. Cukup luas untuk ukuran goa bawah tanah dan memiliki lorong-lorong yang saling terhubung. 
Foto di dalam goa bersama Gus Ndop, Nila dan sapa lupa nanya nama, ada beberapa rongga yang tembus sinar matahari sehingga menambah artistik penerangan foto.

Goa ini memiliki pemandangan yang indah, lihat saja Stalaktit (batuan berasal dari tetesan mineral) bergelantungan terus bertambah setiap saat. Batuan Stalakmit (batuan hasil tetesan mineral, tumbuh di bawah) pun tak jauh keren, bahkan ada yang membentuk seperti patung. Kilauan batuan di dalam goa seperti harta karun yang tersembunyi. Saran untuk calon pengunjung, sangat diwajibkan membawa alat penerangan dan persediaan air minum. Didalam sangat panas, oksigen terbatas dan akan membuat air keringat terkuras.



Ini adalah pak Ikhwan, pemilik lahan disekitar GOA MAHAKARYA (goa Celeng) seluas 400meter persegi yang terletak di pulau Giliyang, Kabupaten Sumenep. Beliau juga menjadi pengelola dan anak menantunya Abdullah sebagai pemandu untuk masuk ke dalam Goa. Selama ini belum tersentuh oleh pembangunan pemerintah, hanya beberapa kali mendapat kunjungan dari Mahasiswa. Di dalam goa sudah terpasang instalasi kabel untuk penerangan, namun saat kami menelusuri dalam goa kondisinya sudah tidak menyala atau tidak terawat. Pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, jika menggunakan pemandu ada biaya jasa seikhlasnya. Pemandangan di dalam goa sungguh indah, luas dan terdapat rongga menganga yang tembus sinar matahari. Pengunjung harus berjalan kaki sekitar 1km dari lokasi pemberhentian kendaraan.

Penduduk di sekitar Goa Mahakarya

Rombongan Blogger terakhir setelah dari Goa Mahakarya menuju penginapan Desa Ban Raas, melewati sepanjang jalan utama di Giliyang berpaving yang dibangun oleh BPWS.  Diangkut menggunakan Dorkas, ialah berupa kendaraan bermotor roda tiga yang ditambah kursi kanan kiri di bagian belakang. Muat untuk 8 orang ukuran standart, untungnya di poto ini semua berbadan standart. 

Perahu nelayan di pantai Ropet saat kondisi air surut.
  Masjid Hidayatullah Islam di Dusun Bungkok Desa Banraas Pulau Giliyang Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep yang di bangun oleh Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo.  Saya sangat meyakini, pembangunan Masjid ini penuh dengan isyarat akan keamanan Republik Indonesia. 
Warga sekitar Pantai Ropet membawa menu sarapan
Pemandangan di sekitar tempat bersandarnya perahu/kapal nelayan, Pantai Ropet, Pulau Giliyang
Pemandangan dari top view Pantai Ropet, disekitar sini ada gasibu/pondok kecil-kecil untuk berteduh dan istirahat wisatawan
Kayu-kayu besar di pinggir pantai Ropet sebagai pemecah ombak
Warga sekitar Pantai Ropet membawa menu sarapan, berada di pinggir pantai dengan pemandangan matahari terbit, rombongan blogger siap menyantap menu olahan yang dipersiapkan warga .
Menu sarapannya seperti ini, tak jauh dari olahan ikan laut. Ada sambal sate, sambal tomat, tempe dan nasi kukus yang dibungkus daun pisang (lupa namanya)
Makan jangan malu-malu, habiskan saja kawan. Itu memang harus habis, karena memang jatah kalian. 

Dokumentasi di Pantai Ropet setelah sarapan ditemani matahari terbit
   

Kembali naik Dorkas, namun pada perjalanan saya kali ini ada yang membuat berbeda dengan pengemudi lainnya. Kenapa?? karena sopir dorkas ini selalu menyalakan klakson setiap bertemu dengan jembatan, entah kecil maupun besar. Menurut pemahamanku, hal itu konon dilakukan untuk menyapa para penunggu jembatan. Ini adalah mitos turun-menurun peninggalan orang terdahulu, tentang adanya makhluk besar penunggu jembatan yang menghubungkan dua daerah yang terbelah oleh air. 

Bersama Dito dan Mira Sahid (pegiat Emak-emak Blogger) sesaat sebelum meninggalkan pulau Giliyang
Selamat tinggal Giliyang, sampai jumpa lagi. Semoga kedepan semakin baik. (tulisan yang benar adalah Giliyang)

Bersama Dito, Indah Julianti, Vivi dan Mira Sahid (pegiat Emak-emak Blogger) sesaat sebelum meninggalkan pulau Giliyang
Masih dalam rangka mengikuti acara #MenduniakanMadura dan menelusuri #jejakBPWS di pulau Madura, 22-25 November 2016.
Bandar Udara Trunojoyo merupakan bandara udara yang berada di Pulau Madura. Rute penerbangan pesawat perintis PT. Airfast Indonesia adalah Sumenep - Surabaya setiap hari Selasa dan Kamis pukul 08.00 WIB dengan pesawat Twin Otter kapasitas 13 penumpang. Sebelumnya ada penerbangan perintis perdana PT. Susi Pudjiastuti (Susi Air) rute Sumenep-Surabaya dan Sumenep-Jember dengan Pesawat Cessna Grand Caravan kapasitas 6 penumpang. (Wikipedia)

Bersama Juragan Batik Tulis UD. Aneka, bapak Ahmadi. Memiliki usaha batik yang tengah berkembang, berbagai cara ditempuh beliau untuk tetap melestarikan batik khas Madura. Salah satunya adalah mewariskan keahlian mengelola usaha yang telah dibangunnya sejak puluhan tahun yang lalu ini. Memiliki 5 orang anak, tapi dari mereka belum ada yang minat meneruskan bisnis orangtuanya ini. Berdasarkan analisa bisnis saya, hal ini dipengaruhi oleh keinginan orang tua agar sang anak tidak kesulitan dalam menghadapi masa depan kelak. Untuk itulah, mereka disekolahkan di tempat yang bergengsi di luar kota bahkan luar negeri. Nah, seusai pendidikan tinggi mereka selesai tentu akan memilih sesuai bidang sekolahnya. Sangat jarang sekali yang mau meneruskan usaha/bisnis orang tuanya. Hal ini terjadi pula di Ponorogo, dimana dahulu menjadi sentra batik terbesar di kawasan Jawa Timur. Salah satu penyebabnya hampir sama, yaitu kurangnya pendidikan bisnis kepada penerus (anak). Maka, setelah pemilik sudah tua atau tiada saat itu pula awal akhir dari bisnis tersebut.
Barisan belakang bus yang paling rame sepanjang perjalanan, kebetulan sedang ada Wahyu Alam.

Pelabuhan Dungkek, Sumenep. Sebelum menuju Pulau Giliyang, wisatawan akan menggunakan pelabuhan ini dan menyeberang dengan perahu kecil kapasitas 20-30 orang. Biayanya sekitar 40ribu. Namun jika rombongan akan lebih murah, sekitar 600ribuan.

Onthel klasik, sempat terbelalak karena ada sepeda onthel unik di pinggir pantai menuju tempat budidaya rumput laut di Sumenep. Eh ternyata sudah dimodifikasi oleh pemiliknya ditambah pipa untuk memperkuat rangka sepedanya, sebenarnya tanpa ditambahi pipa tersebut, saya yakin masih kuat kalau hanya beban sekitar 100kg. Tapi entah karena alasan apa pemilik merubah rangka sepeda. Mungkin untuk mengangkut rumput laut jumlah banyak atau kondisinya memang sudah perlu penanganan demikian.
Disinilah rumput laut dipanen, dipilah-pilah untuk selanjutnya dijemur. Nampak ibu-ibu giat dalam mengelola budidaya rumput lautnya.

Sumenep sebagai penghasil rumput laut terbesar di Indonesia, potensi ini dapat dikembangkan lebih baik lagi. Tentu akan menambah nilai ekonomi warga. Misal dari sisi permodalan, BPWS pun akan sangat berperan penting dalam mengembangkan usaha masyarakat Madura, khususnya Kabupaten Sumenep.


BERSAMBUNG...

Comments

  1. Wow, tulisanya lengakapa banget, masih terfokus pada judulnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. video nyanyimu masih kusimpan. tenang aja.

      Delete
  2. Keren mas. Ah penumpang paling belakang genk penghabis makanan dan paling rusuh.. hahahah

    Sampai ketemu dtrip selanjutnya ya mas.. Salam dari kopi lampung

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalimat yang tepat itu bukan penghabis makanan. tapi misi penyelamatan makanan, sayang kalau tidak habis... *selalu lapar
      Trip selanjutnya bawa peralatan masak ah...

      Delete
  3. wah lengkap banget mas foto-fotone, dadi kangen suasana wingi :D oh iyo mas, sedikit ralat, namane air terjun toroan, bukan torowan, mungkin typo ya saking nulis banyak. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini adalah kekuatan cerita dari perjalanan dengan media gambar. haha
      iya, segera dikoreksi maklum copas dari Wikipedia.

      Delete
  4. Luar biasa seru ceritanya! Sudah kangen lagi untuk ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. potomu buanyak cak, salut dengan aktifitas berkomunitasmu... sehat terus ya.

      Delete
  5. Lengkap banget ulasannya, keren-keren :) sampai jumpa di Kopdar selanjutnya ya kang Pardi :) asyik-asyik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ok kak Didik, ditunggu update karya terbaiknya... semoga tetap semangat untuk menjadi terbaik untuk negeri ini... salam

      Delete
  6. Album fotone manteb Kang...ah sayang banget aku gak ikutan nampang.... Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masa sih gak ada? seingatku ada kok, coba nanti saya cari-cari deh. haha

      Delete
  7. Wah kepsyen fotone duwowo koyok postingan huahahhaha... koyoke sampean ra perlu posting maneh wis komplit banget iki kang! Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. lha mau nulis artikel panjang masih bingung merangkai kata-kata.... buat begini aja deh...

      Delete
  8. Kang, ulasannya lengkap deh. Senang bisa berjumpa kang Pardi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih Silvi... sampai jumpa di lain waktu ya.

      Delete
  9. Yoyoyo,,, senang bisa ngtrip bareng blogger hits kek kalian,,,

    kangen maksimal stlh bca artikel dikau

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... terima kasih udah mampir ya Radit. sampai jumpa lagi ya...

      Delete
  10. Wah ini tulisannya keren deh.
    Apalagi aku disebut gitu. hahaha

    Senang bisa mengenal anda, semoga bisa jumpa lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sudah mampir, salam untuk keluarga di Madura ya.

      Delete
  11. Mator Sakalangkong kang Pardi atas rabunah e madhureh.
    moge moge bisa atemmuh pole.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama, Berri. Terima kasih udah jemput di Bungurasih dengan pak Latief.

      Delete
  12. Bah, ini baru lengkap ceritanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, masih seabrek poto yang belum saya kasih caption, semua tentang #menduniakanmadura

      Delete
  13. Sukses buat madura, semoga makin mendunia

    ReplyDelete
  14. Wiiih banyak fotonya postingan mas Pardi! Dan aku masih keingetan obrolan yang di Giliyang itu. Hahahaha��.

    ReplyDelete
  15. Nyekrolnya sampai nggak habis-habis hahaha. Tapi beneran komplit. Ntar nyontek dari sini ah kalo ada bahan tulisan yang kurang hehehe.

    ReplyDelete
  16. Tulisannya lengkap. Dan banyak gogonya jadi senang saat membaca blog ini. . .

    ReplyDelete
  17. mantap kang. Lanjutkan videonya diupload semua hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts