Reboisasi Bambu solusi tanah longsor

Pemandangan Kabupaten Ponorogo dari arah  Gunung Gajah, Sawoo.
Menikmati alam Ponorogo terasa tak ada habisnya, apalagi pemandangan dari pegunungannya. Maklum, Ponorogo adalah sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh pegunungan Barat, Selatan, dan Timur . Sedangkan pada sisi Utara, berada diantara dua gunung yaitu Wilis dan Lawu. Tanah pertanian subur makmur, semua tanaman sawah/ladang dapat hidup disini. Jika saat musim hujan tiba, beberapa wilayah akan kelebihan debit air. Hal ini dikarenakan jumlah penebangan pohon liar di area resapan air hujan di lereng pegunungan, terutama sisi selatan dan timur. Belum lagi penambangan pasir di daerah Kecamatan Jenangan dan Ngebel, dikeruk secara brutal tanpa mengindahkan keseimbangan alam.
Akhir-akhir ini di daerah Ngebel mendapat intensitas hujan yang sangat tinggi, sehingga tanah longsor menghantui masyarakat Desa Talun. Ratusan warga diungsikan, karena ketika hujan deras akan menyebabkan aliran deras dari puncak pegunungan disertai pasir dan bebatuan. Beberapa ruas jalan pun amblas disapu derasnya banjir dadakan.
Pernah mengunjungi salah satu desa di Ngebel, dimana bambu-bambu petung dihargai dengan sangat murah sekali. Bisa dibayangkan, satu rumpun bambu ditawarkan hanya dengan harga 200-300ribu! Wah, ini sangat murah sekali untuk bambu jenis petung. Padahal kalau udah sampai di kota Ponorogo, harganya bisa mencapai 80ribu perbatang.
Miris mendengarnya. Padahal rencana kunjungan waktu itu dalam rangka survei lahan untuk penghijauan dengan media bambu, eh malah warga sekitar justru berlomba-lomba menghabiskan rumpun bambu yang tumbuh subur di sekitar Ngebel. Bambu merupakan tanaman yang sangat baik untuk menahan air dan tanah. Akar serabutnya mencekeram kuat ke dalam tanah menyerap air, hingga dikirim ke ruas-ruas batang bambu. Memang perlu sosialisasi lebih lanjut tentang manfaat dan fungsi bambu dalam menjaga ekosistem. Ok lanjut...
Saat menikmati matahari terbit dari arah puncak gunung Bangkong, Sidowayah (Ponorogo Barat), ditemani dengan bakar ikan. 
Beda halnya dengan daerah barat kota Ponorogo, disini jumlah pepohonan/hutan sudah banyak yang berkurang, tapi tidak menyebabkan bencana banjir. Entah kenapa kok bisa terjadi seperti ini, mungkin karena tidak adanya penambangan pasir seperti di daerah Ngebel. Di Jambon misalnya, pegunungan disini sudah disulap oleh warga untuk dikelola sebagai ladang singkong maupun tanaman palawija lainnya. Ketika musim kemarau tiba, tanah disini menjadi kering kerontang berdebu disapu angin. Tanahnya sudah berubah karena saking panasnya (kurang pepohonan), tapi saat hujan tiba tanaman liar dapat tumbuh subur. Uniknya, di beberapa daerah puncak seperti misalnya di Wonopuro, air masih melimpah walau saat musim kering. Warga masih dengan mudah mendapatkan air hanya dengan menggali beberapa meter sudah menemukan sumber air. Ada pula sendang yang mengalir sepanjang musim, disini tumbuh pula 3 pohon trembesi dengan diameter sekitar 1-2meter, mungkin sudah berumur puluhan atau ratusan tahun. Berbeda dengan daerah dibawahnya, sumber air akan berkurang saat kemarau. Bahkan sampai terjadi krisis air berkepanjangan. Hal ini adalah yang memacu keinginan teman-teman pecinta alam untuk melakukan reboisasi dengan media bambu. Kegiatan sadar penghijauan ini sudah digalakkan sejak tahun 2012, khususnya dengan media bambu. Sebelumnya sudah dimulai dengan tanaman produktif, seperti buah-buahan dan tanaman kayu keras. 
Penanaman bambu secara masal pernah dilakukan oleh kelompok masyarakat Sidowayah kerjasama dengan organisasi pecinta lingkungan MPL pada tahun 2012. Dari ratusan batang bambu yang ditanam, mungkin hanya sekitar 20an yang tetap hidup di musim berikutnya. 
Tim Reboisasi 200 batang bambu hasil kerjasama Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) dengan FORUM Sidowayah. (Photo : Harry Haryono)
Pada tahun 2014, ada upaya kembali dari Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) untuk menggalakkan kembali menanam bambu di kawasan Sidowayah menuju Wonopuro. Alhasil ada sekitar 30 batang bambu cina berhasil ditanam. Sistem penempatan benih, ditentukan oleh tanah yang dekat dengan aliran atau sumber air. Untuk itulah, penanaman dilakukan dua cara yaitu pada awal musim penghujan dan akhir musim kemarau (dimana letak sumber air dapat diketahui). Kali ini hanya beberapa batang yang hidup, mungkin hanya sekitar 10an. 

Tanaman bambu cina yang nampak tumbuh subur di salah satu lereng pegunungan Rajekwesi (dipotret oleh Harry Haryono, April 2016)

Semoga menjadi rumpun bambu yang akan terus berkembang, sehingga akan menjadikan sebuah tempat yang asri dan sejuk bagi setiap orang yang melewati. Besar harapan kami, untuk dapat terus melakukan reboisasi dengan media bambu. Salam hijau.

Comments

  1. Di puncak gunung trus bakar2 ikan mah niat banget ... enak di temani secangkir teh panas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang niat mau bakar-bakar ikan gitu, sambil ngopi ... mumpung lagi gak ada kerjaan, liburan murah meriah asyik, terima kasih cumi udah mampir.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts