Tidak nonton bareng Final Indonesia vs Thailand? TV ilang

Final piala Suzuki Cup 2016
Hampir genap 3 bulan berjalan, saya melaporkan kasus pencurian di tempat usaha warung kopi Hokya Hokya Hake. Beberapa perlengkapan elektronik hilang dari tempatnya, terutama alat penting yang sebenarnya bukan punya saya. Waktu itu saya sedang sibuk bersama tim yang lainnya untuk ikut mensukseskan gelaran tahunan Pemkab Ponorogo. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Nasional Reyog Ponorogo dilaksanakan di Panggung Utama Aloon-aloon Ponorogo. Dimana sudah terjadwal, grup yang akan tampil selama perhelatan berlangsung. Kurang lebih ada sekitar 40an peserta yang hadir dari penjuru Indonesia.
Selama acara berlangsung, Kedai Kopi saya sewakan stand yang telah dipersiapkan panitia. Berkerjasama dengan NdlesebJaya, Angkringan Masdije dan Es Tebu Haryono, kami berniat ikut memeriahkan Grebeg Suro 2016. Panitia menawarkan stand pameran secara terbatas kepada UKM dan PK5, mulai harga 1jt hingga 5juta termasuk sponsor. Nah, kami mendapatkan harga sewa 1jt sudah termasuk fasilitas didalamnya yaitu listrik, lampu, lantai karpet dan tenda kerucut sarnavil ukuran 3x3meter. 
Cuaca yang kurang bersahabat, membuat pendapatan tidak sesuai dengan target. Terutama pada hari penutupan, dimana saat itu teman-teman sudah mempersiapkan menu yang cukup banyak. Mulai dari nasi bungkus ada sekitar 100, ratusan jajanan bahkan tebu 1 kuintal terpaksa dibawa pulang kembali. Seusai penutupan, semua perlengkapan pameran (jualan) dibawa pulang balik ke markas jalan Semeru. Termasuk alat-alat untuk kebutuhan online/streaming tim Ponorogo Berbenah. Belum sempat tanya berapa hasil jualan, pokoknya dibawa pulang dulu saja. Nanti itung-itungannya setelah ditotal semua. Setelah semua selesai dipindahkan, kami pun beristirahat dan berpisah menuju tempat masing-masing. 


Bagi teman-teman yang lain sudah dapat istirahat, namun saya masih mempunyai tugas yang harus diselesaikan. Agenda Pemkab Ponorogo selama Grebeg Suro 2016 spesial, kenapa? Ada artis papan atas Iwan Fals yang akan hadir, menghibur penggemarnya di Panggung Utama Aloon-aloon Ponorogo. Sesuai kontrak dengan Event Organiser I-Pro, tim Ponorogo Berbenah berkerja selama 1 bulan penuh. Pembagian waktunya adalah 2 Minggu sebelum acara dimulai, 1 Minggu selama acara dan 1 Minggu setelah selesai. Titik fokusnya adalah Panggung Utama dan sekitar aloon-aloon Ponorogo. Adapun acara di lokasi lain tetap akan mendapatkan perhatian dari tim ini. 
Tiba saatnya tugas terakhir saya harus dilaksanakan. Panggung konser budaya Grebeg Suro 2016 bersama Iwan Fals sudah nampak megah ditata, sound system pun menunjukkan kualitas terbaiknya untuk menghibur fans Orang Indonesia (OI), yang akan hadir dari penjuru kota di Indonesia. 
Panggung megah untuk konser Budaya Iwan Fals 

Didepan panggung terdapat panggung untuk undangan VIP, hal ini berdasarkan permintaan Bupati Ipong Muchlissoni untuk dapat menyaksikan penampilan bang Iwan Fals secara leluasa.

Kangen-kangenan dengan anak sebelum berangkat menunaikan tugas mensukseskan acara pamungkas Grebeg Suro 2016
 Beberapa persiapan ringan sudah saya persiapkan dari rumah. Seperti laptop, kamera 360 merk Ricoh Theta S yang disediakan oleh Bupati Ipong Muchlissoni dan diserahkan melalui EO I-Pro, dan beberapa kabel penting sudah berada di tas punggung saya. Setelah berpamitan dengan dua buah hati dan keluarga, saya langsung meluncur ke warung kopi Hokya untuk mengambil alat penting lainnya seperti tripod, handycam, dan laptop cadangan milik (Eko-Pradesga). Betapa kaget perasaan saya ketika sampai melihat kondisi pintu yang sudah rusak, seperti dicongkel menggunakan obeng atau linggis. Hal ini sentak membuat konsentrasi buyar, saya langsung masuk untuk memastikan apa yang terjadi di dalam ruangan. Ternyata TV LCD 32 inch sudah tidak ada ditempat, saya pun langsung panik untuk berbuat sesuatu.
Kondisi pintu yang sudah rusak, dicongkel dengan alat linggis/obeng 
 Pertama kali saya menghubungi tetangga sebelah, yaitu Mbak Hani. Dia adalah orang yang setiap hari menyuplai makanan dan nasi bungkus warung. Saya cerita kalau telah terjadi pencurian, TV ku dicuri orang mbak. Tanpa banyak cerita, saya kembali mengecek barang-barang lainnya.  Ternyata  barang elektronik penting lainnya juga hilang, diantaranya Handycam, Tripod, 2 Laptop, Kamera DSLR, dan Encoder merk Blackmagic (ini alat dipinjami EO untuk mendukung proses streaming video selama acara). Ada lagi yang membuat saya terkejut, satu tas kresek berisi rokok dan kopi milik Kedai NdlesebJaya juga ikut digasak pelaku. Sungguh perbuatan yang membuat sengsara orang lain. *nangis*
Karena datang di warung sendirian, saya merasa panik dan butuh teman. Langsung menghubungi rekan kerja yang setiap hari mengurusi warung, yaitu Reyhan. Dia ikut kerja dengan saya sudah 2tahun, cukup sudah berpengalaman melayani pelanggannya. Begitu saya telepon, Reyhan langsung menuju TKP dan nampak terkejut dengan apa yang telah terjadi. Kejadian ini saya laporkan ke Ketua RT yang rumahnya tidak jauh dari tempat kejadian perkara. Namun merasa lama prosesnya, saya memilih melaporkan langsung ke Polres Ponorogo. Ditemani dengan Nuibi (pelanggan kopi), saya melaporkan peristiwa ini kepada pihak Reskrim Polres Ponorogo. Beruntungnya bisa ketemu dengan Kanit Reskrim yang sedang duduk santai di depan ruangan bersama rekannya. Laporan langsung dibuat oleh petugas, sedangkan pak Kanit menuju TKP ditemani Niubi untuk memastikan kronologi pencurian.
Petugas Kepolisian Polres Ponorogo unit Reskrim
Selang beberapa saat dilakukan penyidikan, akhirnya surat Tanda Bukti Lapor selesai dibuat. Saya pun meninggalkan POLRES Ponorogo menuju warung. Sesampai disana, sudah ada beberapa teman yang berkumpul menantikan informasi atau sekedar memberikan kepeduliannya. Saya pun bertanya kepada Ghafur yang dari semalam rencana akan menemani meliput konser, "Piye iki, penake sido budhal opo ora?", tanyaku. (Gimana, jadi berangkat meliput konser apa tidak?). Dia hanya memberikan keputusan sepenuhnya kepada saya, "sakkarepmu kang, aku manut", jawabnya. (Terserah kamu, saya ngikut saja). Termenung sejenak sambil memastikan keputusan apa yang akan diambil, dan ternyata saya lebih memilih untuk tetap berangkat. "Ayo berangkat! Dipikirkan besuk saja, malam ini harus dituntaskan urusan tanggung jawab ini". Mendengar keputusan yang bersemangat, Ghafur pun langsung menjawab, "Ayo! Lagian mau ngapain juga bingung, mendingan melakukan sesuatu dan melupakan sejenak masalah ini".
Kami pun berangkat dengan membawa perlengkapan yang masih tersisa, yaitu tripod untuk kamera 360 dan kabel listrik. Menuju ke Aloon-aloon sekitar pukul 19.00 WIB, dimana saat itu penonton  sudah mulai ramai memenuhi depan panggung. Saya sempat berkonsultasi dengan EO untuk lokasi liputan. Akhirnya dapat di sebelah timur panggung, bersebelahan dengan JIB shooting multimedia.

Selfy sebelum acara dimulai, menghibur diri mode on.

Berada di sebelah JIB multimedia, nampak Bupati Ipong Muchlissoni bernyanyi bareng bang Iwan Fals.

Ribuan penonton memadati Aloon-aloon Ponorogo, tumplek blek lautan manusia

Mendapatkan tempat spesial di depan panggung langsung adalah hal yang tidak didapat oleh semua orang. Pengamanan dari Manejemen Iwan Fals sangat ketat dalam memberikan akses penonton. Saya sempat dilarang juga oleh bodyguard untuk tidak merekam konser. Tapi saya jelaskan, bahwa kami diutus oleh Bupati untuk mengabadikan konser budaya ini melalui media online (Internet).
Konser Budaya bersama Iwan Fals, kami siarkan melalui dua jalur media sosial yaitu Facebook dan Youtube. Di Facebook kami menggunakan Fanspage Ponorogo Komunitas Online, beruntung sudah tersedia fasilitas siaran langsung. Menggunakan perangkat HP Opp* dan koneksi internet dari XL 4G Lte, acara ini dapat disaksikan oleh ribuan penonton dari penjuru dunia.


Sedangkan untuk kamera 360, kami menggunakan akun Youtube Ponorogo Berbenah. Tekhnologi kamera ini termasuk baru di dunia multimedia, namun ini merupakan prestasi tersendiri bagi Pemerintah Ponorogo khususnya Bupati Ipong Muchlissoni dalam mengawali kepemimpinannya. Tanggapan dari penonton masih banyak yang mengeluhkan kualitas rekaman dan kebingungan bagaimana cara menontonnya. 

Setelah kurang lebih 2jam menghibur penggemarnya, akhirnya konser budaya dalam rangka Grebeg Suro 2016 ditutup dengan jogetan Bang Iwan Fals bersama semua pemain band pengiring. Sebagai wujud terima kasih, bang Iwan dan rekan sujud menghadap kepada penonton yang sudah sudi sampai selesai konser. 
Iwan Fals dan Band pengirim setelah konser selesai

Bersama tim EO I-Pro foto bareng di depan panggung
Dari pengamatan saya, acara malam itu sukses besar. Damai lancar tidak ada tawuran hingga konser usai. Penonton puas dengan 16 lagu yang dibawakan bang Iwan Fals. Hanya masalah sampah tersebar dimana-mana, sudah menjadi resiko dimana-mana jika ada acara konser musik pasti akan berserakan sampah.
Bertemu dengan teman-teman yang ikut membantu mensukseskan Grebeg Suro 2016.
Dua hari setelah kasus pencurian tersebut, saya hanya pasrah kepada Tuhan tentang kejadian ini. Berharap semua akan kembali normal sedia dulu kala, dimudakan segala urusan dan diberikan pencerahan kepada pelaku pencurian. Entah darimana awalnya, insting untuk terus mencari pelaku muncul dan harus dilakukan pada malam itu juga. Awalnya memberikan informasi melalui jaringan Grup Facebook Info Cegatan Wilayah Ponorogo (ICWP), kebetulan banyak yang kenal dengan pengurusnya. Disana para member sangat aktif jika ada berita terbaru, terutama peristiwa diseputaran Ponorogo. Saya hanya berpesan, jika menemukan atau mengetahui barang hilang tersebut, harap menghubungi saya. Ada beberapa teman yang mengabari mengetahui salah satu barang yang hilang. Sontak saya lakukan pendekatan lebih dalam atas laporan tersebut. Setelah melakukan proses transaksi, saya lihat barang yang dijual ternyata adalah sama persis dengan punya saya. Dari sinilah semua terbongkar sampai ujung rantai pencurian ini. Tindakan sigap dari Buser Polres Ponorogo membuahkan hasil, otak pelaku pencurian ditangkap dengan mudah.
Penangkapan tersangka membutuhkan waktu 2hari 3malam, sebelum akhirnya meringkuk di tahanan Polres Ponorogo. Menurut pengakuannya, dia sudah melakukan pencurian dibeberapa tempat. Namun dari tempat yang lain, tidak melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak berwajib. Hal tersebut dilakukan oleh korban karena kemungkinan pelakunya tertangkap sangat kecil. Bagi saya, semua tindak kejahatan/pencurian adalah hal yang harus dilaporkan kepada yang berwenang. Mengingat, jika suatu saat terjadi penemuan atau pelakunya tertangkap, bisa untuk penyelidikan lebih lanjut. Saya percaya bahwa instansi Kepolisian juga ingin mendapatkan apresiasi dari masyarakat atas pelayanannya. Untuk itulah, saya sepenuhnya membantu pihak Reskrim Polres Ponorogo mencari dan menemukan pelaku pencurian tersebut. Semua saya lakukan terlepas dari ketidakpercayaan masyarakat akan penyelidikan kasus kriminal selama ini. Mungkin Ada yang merasa dirugikan atau harus bayar ini itu agar prosesnya lancar dll. Bagiku, ini adalah tugas Polisi untuk menjaga keamanan di daerahnya.
Sejak penangkapan itu, belum ada info lebih lanjut tentang bagaimana nasib barang bukti yang sudah diamankan Polres Ponorogo . Terakhir saya meminjam Handycam dan Tripod untuk keperluan perjalanan ke Madura beberapa waktu yang lalu. Saya harus tanda tangan sebuah kertas sebagai bukti bahwa barang sedang saya pinjam. Belum saya kembalikan lagi, karena masih ada beberapa acara penting di bulan Desember yang harus saya abadikan. Mengenai biaya penyelidikan, saya belum mengeluarkan dana sepeserpun, termasuk untuk pengurusan berkas-berkas selama di Kepolisian. Kalau memang sistemnya begini, ini pelayanan memuaskan bagi masyarakat.
Setiap ada jadwal nonton bareng sepak bola, banyak pengunjung warung kopi yang menanyakan TV. Sebenarnya sih mereka mengejek atau menyindir, "punya TV kok dikasihkan orang lain". Haha "nontonnya di Jalan Bhayangkara, aja ya teman-teman" (Polres Ponorogo berada di jalan Bhayangkara). Lucu deh melihat mereka menyudutkan saya dengan lelucon khas masing-masing.
Saya hanya pasrah, bagaimana proses hukum ini akan diselesaikan. Kalaupun ada biaya yang harus dikeluarkan, saya akan berfikir dua kali. Minimal mengetahui berapa nilainya, selama masih relevan akan tetap saya ikuti aturan tersebut. Tapi jika sudah tidak wajar jumlahnya, saya lebih memilih diam dan membisu. Kuserahkan semua kepada Tuhan, mana jalan terbaik yang harus ditempuh.
Semoga segera tuntas dan dapat kembali nonton bareng siaran langsung sepak bola di warung kopi Hokya Hokya Hake.

*ditulis dengan singkat proses penangkapan hingga penyelidikan

Comments

  1. perjuwangan yang luuuuar biasa dari kawan2 ini patut mendapat apresiasi setinggi2nya. gaung adanya grebeg suro dan festival reyog menjadi sedikit terdengar hingga mancanegara. perlu diteruskan tahun depan, dengan persiapan yang lebih matang, supaya gaungnya lebih terasa

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts